Rabu, 18 Agustus 2010

"Siapa Menabur, maka dia akan menuai"


Percayakah anda dengan peribahasa "Siapa Menabur maka dia akan Menuai?"

Peribahasa tersebut bisa menjadi inspirasi untuk menjalani kehidupan ini.
Saya mengambil peribahasa ini menjadi pegangan dalam hidup saya karena saya sangat mempercayai bahwa kehidupan ini sebetulnya adil. Tuhan tidak menciptakan segala sesuatunya itu tanpa tujuan dan maksud yang jelas. Hanya biasanya kita sendirilah yang selalu tidak sabar akan maksud dan tujuan dari Sang Pencipta itu.

Menabur disini ibarat perbuatan kita dimasa lalu yang akan kita terima hasilnya di masa sekarang, dan perbuatan kita di masa sekarang yang akan kita terima hasilnya di masa depan. Banyak kejadian sekarang ini adalah buah dari perbuatan di masa lalu (orang biasanya menyebut hal ini dengan karma)

Dulu saya pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta, dan saya mempunyai seorang mandor. waktu itu menjelang 17 Agustus dimana banyak orang atau yang mengatas namakan instasi tertentu datang untuk meminta sumbangan untuk diadakannya "Pesta Rakyat". Sesuai dengan instruksi Bapak RT dan RW setempat, bila ada yang meminta sumbangan tanpa seijin mereka harap ditolak. kejadian ini bermula ketika ada oknum datang secara paksa meminta sumbangan tanpa dilengkapi ijin RT/RW setempat, dan akhirnya saya tolak secara halus. Tetapi apa yang terjadi? keesokan harinya terjadi "hujan batu" dari daerah sebelah kiri tempat saya bekerja dan banyak orang yang menyerang kantor saya. akhirnya setelah perwakilannya saya persilahkan masuk mereka menuntut untuk meminta uang untuk kegiatan "17-an". Dan yang membuat saya heran adalah kenapa mandor saya justru memihak pada mereka? Akhirnya untuk menghindari masalah lebih jauh saya memberikan uang untuk kegiatan mereka itu. pada saat itu saya hanya berkata dalam hati "Siapa menabur, maka dia akan menuai"

Tidak lama dari kejadian itu, tiba-tiba karyawan laki-laki mogok bekerja, dan tersebar isu bahwa seluruh karyawan laki-laki akan dipecat tanpa diberikan pesangon. Kemudian saya panggil satu persatu karyawan yang mogok. dan langsung saya tanya "Apa yang sudah mandor katakan padamu?" mereka pun kaget setelah mendengar pertanyaan tersebut. dan meng iya kan bahwa mereka diatur oleh sang mandor, tetapi mereka tidak bersedia menjadi saksi atas perbuatan mandor itu. dan lagi-lagi saya berkata dalam hati "Siapa menabur, maka dia akan menuai".

Besok sorenya terdengar berita bahwa ada perkelahian di terminal sebelah kantor saya. katanya ada orang yang dipukuli warga gara-gara mendekati istri orang dan ketauan suaminya. tak lama kemudian saya melihat mandor saya pulang dengan luka memar di bagian wajah dan badan bagian belakang. "Kamu kenapa?" saya tanya. "Jatuh dari motor, sewaktu mau menjenguk karyawan yang lagi sakit" jawab sang mandor. Tetapi saya merasa ada sesuatu yang aneh, maka saya tanya lagi "Sakit yah dipukuli orang?". akhirnya dia diam dan menjawab "Tau dari mana?"

Setelah saya cari tau kejadiannya ternyata orang yang memukuli mandor saya adalah orang yang waktu itu melempari kantor saya dengan batu yang pada saat itu juga dibela oleh sang mandor. Sang wanita yang sudah bersuami itu juga adalah salah satu karyawan saya yang juga kakak ipar dari karyawan laki-laki yang kemarin mogok kerja. Akhirnya saya katakan lagi "Siapa menabur, maka dia akan menuai"

Akhirnya mandor tersebut saya mutasikan ke daerah lain di bagian yang lain pula.

Dengan kejadian ini semakin membuat saya percaya bahwa peribahasa "Siapa menabur, maka dia akan menuai" itu benar adanya, hanya tinggal kita besabar menunggu kapan rencana Tuhan akan berjalan. Karena segalanya akan indah tepat pada waktunya.

Jadi apabila kita ingin menuai hasil yang baik dimasa yang akan datang, maka sekaranglah saatnya untuk menabur!